Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- 25 tahun setelah serangan teroris 11 September 2001, komunitas Muslim di Amerika Serikat masih menghadapi diskriminasi, kecurigaan, dan berbagai pandangan negatif.
Berdasarkan sejumlah penelitian dan data terbaru, kondisi tersebut tetap bertahan meskipun populasi Muslim serta pengaruh politik mereka di Amerika Serikat terus meningkat.
Berdasarkan survei Pew Research Center pada musim semi 2026, pandangan masyarakat Amerika terhadap Islam dinilai lebih negatif dibandingkan tahun-tahun setelah serangan 11 September dan semakin terpolarisasi secara politik.
Sebanyak 43 persen orang dewasa Amerika beranggapan bahwa Muslim kurang patriotik dibandingkan warga Amerika lainnya. Sementara 42 persen menilai komunitas Muslim memberikan pengaruh negatif terhadap negara tersebut.
Sebagian responden secara langsung mengaitkan pandangan mereka dengan serangan 11 September, menggunakan ungkapan seperti “9/11”, “ingat Twin Towers”, serta “takut akan terjadinya kembali serangan teroris seperti 9/11.”
Pandangan yang Mengaitkan Islam dengan Kekerasan Masih Tinggi
Kekhawatiran mengenai hubungan antara Islam dan kekerasan juga disebut masih cukup luas di tengah masyarakat Amerika Serikat. Sejak 2002, persentase warga Amerika yang beranggapan bahwa Islam lebih mendorong kekerasan dibandingkan agama-agama lain disebut tidak pernah turun di bawah 38 persen. Pada awal 2026, angka tersebut meningkat menjadi 51 persen. Perbedaan pandangan berdasarkan afiliasi politik juga sangat mencolok.
Sebanyak 76 persen anggota Partai Republik dan kelompok independen yang cenderung mendukung Republik memiliki pandangan tersebut. Sementara di kalangan Demokrat dan independen yang condong ke Partai Demokrat, angkanya mencapai 29 persen.
Kejahatan Kebencian terhadap Muslim
Data Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) juga menunjukkan bahwa tekanan terhadap komunitas Muslim belum berakhir. Jumlah kejahatan kebencian anti-Muslim yang dilaporkan pada 2001 mencapai 481 kasus, melonjak tajam dibandingkan hanya 28 kasus pada tahun sebelumnya.
Angka tersebut berfluktuasi dalam tahun-tahun berikutnya, mulai dari 95 kasus pada 2021 hingga 307 kasus pada 2016, tetapi menurut laporan tersebut belum pernah kembali ke tingkat sebelum serangan 11 September. Muslim Amerika juga masih melaporkan berbagai pengalaman diskriminasi.
Dalam penelitian mendalam Pew Research Center pada 2017, sejumlah Muslim mengaku menghadapi kecurigaan, penghinaan, kata-kata kasar, serta perlakuan diskriminatif di bandara maupun saat berhadapan dengan aparat penegak hukum.
Namun, pada saat yang sama, banyak di antara mereka juga mengaku mendapatkan dukungan dari teman dan tetangga. Pada akhir 2001, sekitar 75 persen Muslim mengatakan warga Amerika memperlakukan mereka dengan hormat dan toleran. Meski demikian, 52 persen juga mengaku pernah mengalami diskriminasi setelah serangan 11 September.
Muslim Muda Lebih Banyak Merasakan Diskriminasi
Pengalaman tersebut tidak dirasakan secara sama oleh seluruh komunitas Muslim. Muslim yang lebih muda dan mereka yang lahir di Amerika Serikat disebut lebih sedikit yang menilai masyarakat Amerika bersikap ramah terhadap Muslim dibandingkan generasi imigran yang lebih tua. Mereka juga lebih banyak melaporkan pengalaman diskriminasi.
Yasmin, seorang Muslimah kelahiran Amerika yang diwawancarai dalam penelitian Pew pada 2017, menggambarkan adanya perbedaan antargenerasi tersebut.
“Saya pikir generasi imigran yang lebih tua... tentu jauh lebih banyak diam mengenai persoalan-persoalan ini... sementara saya lahir di sini. Saya berada di sini untuk mengubah keadaan dan membuatnya menjadi lebih baik,” katanya.
Populasi dan Representasi Politik Muslim Meningkat
Di tengah masih berlangsungnya diskriminasi, populasi Muslim di Amerika Serikat dalam dua dekade terakhir disebut meningkat lebih dari dua kali lipat. Jumlah Muslim saat ini diperkirakan mencapai sekitar 5,5 juta orang, dibandingkan sekitar 2,4 juta orang pada 2007. Jumlah masjid juga meningkat dari sekitar 1.200 masjid pada 2000 menjadi hampir 2.800 masjid pada 2020.
Representasi politik Muslim pun terus bertambah. Jika pada 2001 tidak ada seorang pun Muslim yang duduk di Kongres Amerika Serikat, menurut laporan tersebut kini terdapat empat anggota Kongres beragama Islam, dan seorang lainnya disebut akan segera bergabung. Namun demikian, retorika anti-Islam masih ditemukan dalam wacana politik Amerika Serikat. Di antaranya adalah pernyataan anggota Kongres dari Partai Republik asal Texas, Chip Roy, yang pada Maret 2026 menulis di platform X, “tidak ada lagi Muslim...”
Selain itu, anggota Kongres Partai Republik dari South Carolina, Nancy Mace, pada Agustus menulis, “Setiap Muslim yang memegang jabatan pemerintahan di Amerika adalah kuda Troya dan ancaman bagi keamanan nasional serta republik kita.”
Komentar Anda